Bertarung dengan Batin yang Pahit
Dia kerap disapa dengan Sofia. Namanya sudah tidak asing lagi di Desa Kebonagung. Dia bagaikan rembulan muda di antara bintang-bintang muda di sekelilingnya. Sofia yang merupakan anak bungsu dari almarhum Bapak Suyadi itu, sudah beberapa kali dilamar oleh para bujangan. Namun masih belum ada yang diterimanya. Berparas cantik, senyumnya yang manis, sangat cocok dengan postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi namun sedikit berisi. Matanya yang bening tanpa lukisan pensil alispun menjadi sorotan setiap para pria yang memandangnya. Dengan hidung yang sedikit mancung itu, menjadikan dia lebih sempurna. Apalagi ditambah dengan bibirnya yang selalu terlihat basah. Menjadikan Sofia semakin sempurna bagaikan tiada kurangnya.
Semua paras kecantikan yang berada di wajah Sofia selalu terbalut dengan kerudung segi empat yang tidak pernah lepas ketika berada di luar rumah. Dengan latar belakang lulusan pondok pesantren, Sofia hanya memiliki sedikit teman di desanya. Jadi, tak heran apabila banyak perempuan asli desa yang tidak mengenalinya.
Hingga pada suatu hari, dengan cuaca yang sedikit mendung. Di sebuah warung yang teduh, terjadi perbindangan antar dua lelaki mengenai Sofia ini.
"Hud, kira-kira Sofia mau nggak ya bila kulamar menjadi istriku?"
"Hahaha, berangan-angan itu boleh, Ren. Tapi ya jangan terlalu tinggi. Bila mana jatuh akan terasa sakit yang tak berdarah." sahut Huda sambil menepuk pundak Rendy.
"Aku serius ini Hud. Ingin sekali kulamar Sofia dan menjadikannya istri dan ibu bagi anak-anakku kelak."
"Heleh, belum apa-apa udah bicarain anak kamu, Ren Ren." cakap Huda sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lho? Ya gapapa to? Namanya juga bermimpi. Kan bermimpi itu boleh setinggi apapun to?" jawab Rendy yang tetap bersikukuh ingin melamar Sofia.
"Yaya, Ren."
"Terus, gimana Hud saran darimu untukku tentang Sofia?"
"Mas, ini pesanannya." Terdengar suara lembut dari sisi kanan Rendy
"Tadi pesanannya kopi hitam pahit dan es teh jumbo ya?"
"I, iya mbak." jawab Huda yang gugup.
Huda yang telah lama sendiri, baru kali pertama ini merasakan kegugupan yang entah tiba-tiba datang. Berbeda dengan Rendy yang dari dulu memang sering mengincar perempuan namun jarang sekali mendapatkannya. Entah seperti apa hati seorang Rendy dibentuk. Huda yang tampaknya jatuh hati pada penjaga warung itu, berada dalam lamunan yang cukup lama. Sampai rokok yang dinikmatinya habis dimakan oleh semilir angin.
Lamunan itu membuat Huda sudah tidak merespon pertanyaan Rendy terkait saran untuk melamar Sofia. Rendy memang sedikit playboy, namun belum pernah berhasil ketika menuju ke jenjang yang lebih serius. Meskipun begitu, Rendy tetap selalu mencoba optimis akan niatnya yang menginginkan jenjang hubungan yang lebih serius. Berbeda dengan Huda yang sulit untuk move on setelah 2 tahun silam ditinggal oleh pacarnya menikah.
***
Diusia Sofia yang hampir 23 tahun, Ibu Sofia hampir setiap hari menanyakan perihal kapan Sofia menikah. Sofia yang kian hari tidak tahan dengan pertanyaan ibunya tersebut, memutuskan untuk keluar rumah sejenak menuju ke rumah sahabatnya di pondok pesantren dulu.
Setibanya di rumah Umi sahabat Sofia, Sofia disambut dengan senang hati oleh Umi. Sambutan rasa senang tersebut terlihat dengan adanya durian dan teh manis yang disajikan kepada Sofia.
Sofia yang masih duduk manis di kursi ruang tamu itu dengan polosnya langsung mengutarakan isi masalah yang ada di hatinya.
"Um, sama ibu aku di suruh segera menikah." Tutur Sofia sembari matanya berkaca-kaca.
"Iya pastinya dong Sof, bagaimana tidak? Diusiamu yang sekarang ini, tentu sebagai Ibu ingin segera melihat putri bungsunya menikah."
"Lha tapi aku calon saja masih belum ada lho, Um"
"Hmm"
Umi bergumam sejenak sembari berkata kepada Sofia untuk menikmati minuman yang disajikan.
"Monggo, dicicipin dulu teh dan duriannya, Sof."
Ketika Sofia menikmati lezatnya buah durian, Umi sembari berfikir bagaimana supaya Sofia segera ingin menikah. Padahal sudah banyak pria bermaksud untuk melamarnya tapi masih di tolak olehnya.
"Jadi begini Sof, misalkan kamu aku jodohkan dengan keponakanku Ahmad yang dulu mondok di Mojosari bagaimana?"
"Ha, Apa? Kamu mau menjodohkan aku dengan keponakanmu yang dulu sempat bertemu di sini itu?"
Sofia terdengar kaget mendengar saran yang diberikan dari Umi. Karena memang pria itulah yang selama ini Sofia inginkan dan idamkan. Eh, ternyata sama sahabatnya mau dijodohkan dengannya. Bungah dan haru bercampur aduk di waktu yang sama dalam relung hati Sofia.
Sontak mendengar pernyataan tersebut, Sofia terdiam cukup lama. Dalam diamnya Sofia, Umi terus mencoba untuk meyakinkan Sofia untuk mau menikah dengan keponakannya supaya ibu Sofia ayem mendengar putri bungsunya akan menikah.
Saat Sofia mulai beranjak berpamitan kepada Umi hingga tiba di rumahnya, tidak henti-hentinya dia memikirkan perjodohan antara dia dengan pria yang diidamkannya yakni keponakan sahabatnya tersebut. Pria itu dirasa Sofia cocok untuk dijadikan imam di dunia maupun di akhirat. Dengan berbekal pengalamannya mondok di Mojosari belasan tahun, itu menambah keyakinan Sofia untuk menjadikan Ahmad sebagai pembimbingnya ke depan.
***
Sore hari lamunan Sofia itu menjadikan ibunya penasaran karena tidak seperti biasanya Sofia melamun sedalam itu. Perlahan ibunya menghampiri dan duduk di samping Sofia. Memanggil Sofia yang tidak kunjung menjawab sampai akhirnya ibunya menepuk pundaknya.
"Nduk, apa gerangan yang sedang kau fikirkan?"
Dengan rasa kebingungan yang dialaminya, Sofia mencoba untuk berfikir sejenak merangkai kata demi kata untuk menjawab pertanyaan ibunya tersebut.
"Ibu ingin melihat aku segera menikahkan?"
"Iya jelas to, Nduk! Ibu ingin melihat kamu menikah. Mengapa? Almarhum bapakmu dulu berpesan kepada ibu supaya dapat menemanimu hingga menikah. Maka dari itu, ibu berkali-kali bertanya kepadamu kapan menikah, Nduk."
"Waktu aku tadi keluar rumah, aku pergi ke rumah Umi sahabatku dulu di pondok pesantren, Bu. Disana aku memang berniat bercerita terkait ibu yang selalu menanyakan perihal pernikahanku. Terus Umi memberiku tawaran untuk dijodohkan dengan keponakannya yang dulu mondok di Mojosari."
Sofia yang belum selasai bercerita secara rinci, dipungkas oleh ibunya.
"Loh? Cocok to, Nduk. Wong ya bapakmu juga ingin punya mantu yang lulusan pondok. Sebelum bapakmu meninggal, bapakmu sempat bilang ke ibu: Bu, semoga suami Sofia kelak adalah anak pesantren supaya bisa mendidik dan menjadikan Sofia lebih baik lagi. Kan Sofia belum selesai mondok, sudah harus boyong sebab bapak sakit to, Bu."
***
Tidak perlu menunggu waktu lama, berita Sofia akan menikah dengan Ahmad tersebar di kalangan pemuda Desa Kebonagung. Rendy yang sedang bercengkrama riang bersama Huda-pun mendengarkan berita tersebut dari para pemuda yang sedang bermain biliar.
"Aku harus bagaimana dong, Hud?"
"Tenang saja, Ren. Sebuah kehidupan pasti ada titik di mana merasakan pahitnya angan yang tidak terlaksanakan. Dan semua ini sudah menjadi garis perjalanan hidup dari Allah SWT yang tetap harus kita jalani."
#MasaOrientasi
#SMNBacth8
#Kopling

Posting Komentar untuk "Bertarung dengan Batin yang Pahit"